Di Mana Sawah Pertama di Tatar Sunda? April 16, 2009
Posted by Agus Yuniarso in Uncategorized.add a comment
Mata pencarian utama masyarakat Sunda kuno adalah berladang. Hal itu dikemukakann Wertheim dalam bukunya, “Indonesian Society in Transition” yang membagi masyarakat Indonesia dalam tiga pola mata pencarian utama, yakni masyarakat pantai, masyarakat sawah, dan masyarakat ladang.
Naskah Carita Parahyangan dan Wawacan Sulanjana yang menceritakan sejarah tanah Sunda juga menunjukkan masyarakat Sunda sebagai peladang atau “ngahuma” dan cenderung hidup nomaden. Ciri khas masyarakat “ngahuma” adalah tidak memiliki tingkatan bahasa dan budaya tulis, serta cenderung ke arah kebudayaan lisan. Ciri khas itu hingga kini masih ditemui di masyarakat Baduy, Banten.
Pertanian sawah baru dikenal di Tatar Sunda sekitar abad ke-17 bersamaan dengan masuknya pengaruh Mataram. Di Karawang, misalnya, sistem sawah dengan irigasi mulai dikembangkan sejak wilayah itu direbut Mataram dari Sumedanglarang tahun 1632.
Sementara di wilayah Priangan, sawah mulai dikenal abad ke-18, yaitu diperkenalkan orang-orang Mataram yang didatangkan VOC. Mereka membuka daerah baru yang menghasilkan pangan. Melalui pertanian sawah, VOC mengarahkan masyarakat Sunda agar hidup menetap dalam pola perkampungan.
Berdasarkan dokumen VOC, sawah pertama di Priangan dibuka di Conggeang, Kabupaten Sumedang. Sawah itu dikerjakan orang-orang dari Banyumas. Mereka membawa peralatan lengkap dari kampung, termasuk kerbau. Adapun di Indramayu, yang menjadi lumbung padi, sawah pertama baru dibuka awal abad ke-19.
Perluasan sawah di Priangan mulai dilakukan tahun 1750 di kawasan Sumedang dan Tasikmalaya. Setengah abad kemudian, sawah mulai dibuka di Bandung dan Bogor.
Sumber: Kompas
Benteng Baluwerti, Keraton Kasultanan Yogyakarta August 21, 2007
Posted by Agus Yuniarso in Uncategorized.add a comment
Ing Mataram, bentengira inggilngubengi Kedhaton
plengkung lima, mung papat mengane
jagang jero, toyanira wening
tur pinacak suji, gayam turut lurung
Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan. (more…)
Tokoh : Mbah Maridjan, Pria Rosa dari Merapi August 21, 2007
Posted by Agus Yuniarso in Tokoh.add a comment
Di rumah berbentuk joglo berhalaman luas yang terletak di Dusun Kinahrejo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tinggal pria tua yang terlahir di Kinahrejo dengan nama Marijan. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan mbah Marijan. Mbah Marijan memiliki tiga orang putra dan dua putri, buah pernikahannya dengan Ponirah yang berasal dari Ngrangkah, Umbulharjo, Sleman. Mbah Marijan sejak tahun 1983 dipercaya oleh Keraton Yogyakarta memegang peran sebagai juru kunci Gunung Merapi Yogyakarta. Mbah Marijan lahir pada tanggal 14 tahun 1927.
Sebagai juru kunci Gunung Merapi, tugas yang diemban Mbah Marijan tidaklah mudah. Tugas pokok Mbah Marijan adalah mengantarkan sesaji ketika prosesi Labuhan Merapi yang diselenggarakan setiap bulan September. Beliau juga memberi wejangan pada para pendaki Gunung Merapi agar tak menyalahi tata krama.
Setelah resmi diangkat menjadi abdi dalem oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan tugas sebagai juru kunci, Mbah Marijan mendapat gelar Mas Ngabehi Suraksohargo. Gaji Mbah Marijan sebesar Rp 3.510. Tetapi itu bukan masalah. Bekti dan kesetiaan bagi Mbah Marijan merupakan suatu hal yang harus dijunjung tinggi selain penghayatan terhadap tugas. Pada tahun 1995 Mbah Marijan mendapat gelar baru Mas Ngabehi Suraksohargo dari Kesultanan Yogyakarta.
Mbah Marijan mengakui dirinya banyak diilhami almarhum kakek dan ayahnya, Mbah Wonokaryo dan Kartorejo ayahnya, yang juga ditunjuk Keraton Yogyakarta menjadi juru kunci Gunung Merapi. Sebelum ayahnya meninggal pada tahun 1982, beliau berpesan agar Mbah Marijan bisa meneruskan perannya sebagai juru kunci sebab Gunung Merapi harus dijaga.
Untuk menjaga Gunung Merapi, Mbah Marijan selalu melaksanakan laku atau ritual yang diajarkan oleh almarhum kakek dan bapaknya. Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga mengajarkan laku yang harus dimiliki seorang juru kunci Merapi. Pesan beliau yang paling Mbah Marijan kenang adalah jangan membiarkan orang mengowahi (mengubah) tata krama yang ada di Gunung Merapi. Kalaupun mau mengubah harus memakai aturan.
Kini setelah 22 tahun menjadi juru kunci, Mbah Marijan melihat kondisi alam di Gunung Merapi semakin memprihatinkan. Ada yang menambang pasir tanpa aturan, air tidak dibagikan secara adil dan pengambilan kayu yang melebihi batas.
Sri Sultan Hamengku Buwono X pernah berkata pada Mbah Marijan bahwa kita masih dibolehkan untuk mengambil rumput dan kayu. Tapi beliau berpesan jangan sampai masyarakat sekitar Merapi sendiri yang justru merusak lingkungan. Gunakan semua menurut keperluan, jangan berlebihan. Air dibagi dengan adil, rakyat punya jatah dan pemerintah juga punya. Kalau menambang pasir jangan sampai merusak lingkungan.
Sumber : Kompas, 26 Mei 2006
Stadklok, Jam Kota di Jogja August 21, 2007
Posted by Agus Yuniarso in Uncategorized.add a comment
Jam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda membuat beberapa buah jam di pusat kota Yogyakarta. (more…)