<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>GALERI PERS INDONESIA &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://galeripers.wordpress.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://galeripers.wordpress.com</link>
	<description>Just another Agus Yuniarso&#039;s Weblog ...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Apr 2009 03:14:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='galeripers.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5893d436c33c16ed53d4c1948e741e78?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>GALERI PERS INDONESIA &#187; Uncategorized</title>
		<link>http://galeripers.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://galeripers.wordpress.com/osd.xml" title="GALERI PERS INDONESIA" />
		<item>
		<title>Di Mana Sawah Pertama di Tatar Sunda?</title>
		<link>http://galeripers.wordpress.com/2009/04/16/di-mana-sawah-pertama-di-tatar-sunda/</link>
		<comments>http://galeripers.wordpress.com/2009/04/16/di-mana-sawah-pertama-di-tatar-sunda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 03:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Suara Jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://galeripers.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[
Mata pencarian utama masyarakat Sunda kuno adalah berladang. Hal itu dikemukakann Wertheim dalam bukunya, &#8220;Indonesian Society in Transition&#8221; yang membagi masyarakat Indonesia dalam tiga pola mata pencarian utama, yakni masyarakat pantai, masyarakat sawah, dan masyarakat ladang.
Naskah Carita Parahyangan dan Wawacan Sulanjana yang menceritakan sejarah tanah Sunda juga menunjukkan masyarakat Sunda sebagai peladang atau &#8220;ngahuma&#8221; dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=galeripers.wordpress.com&blog=1444024&post=16&subd=galeripers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal">Mata pencarian utama masyarakat Sunda kuno adalah berladang. Hal itu dikemukakann Wertheim dalam bukunya, &#8220;Indonesian Society in Transition&#8221; yang membagi masyarakat Indonesia dalam tiga pola mata pencarian utama, yakni masyarakat pantai, masyarakat sawah, dan masyarakat ladang.</p>
<p class="MsoNormal">Naskah <em>Carita Parahyangan</em> dan <em>Wawacan Sulanjana</em> yang menceritakan sejarah tanah Sunda juga menunjukkan masyarakat Sunda sebagai peladang atau &#8220;ngahuma&#8221; dan cenderung hidup nomaden. Ciri khas masyarakat &#8220;ngahuma&#8221; adalah tidak memiliki tingkatan bahasa dan budaya tulis, serta cenderung ke arah kebudayaan lisan. Ciri khas itu hingga kini masih ditemui di masyarakat Baduy, Banten.</p>
<p class="MsoNormal">Pertanian sawah baru dikenal di Tatar Sunda sekitar abad ke-17 bersamaan dengan masuknya pengaruh Mataram. Di Karawang, misalnya, sistem sawah dengan irigasi mulai dikembangkan sejak wilayah itu direbut Mataram dari Sumedanglarang tahun 1632.</p>
<p class="MsoNormal">Sementara di wilayah Priangan, sawah mulai dikenal abad ke-18, yaitu diperkenalkan orang-orang Mataram yang didatangkan VOC. Mereka membuka daerah baru yang menghasilkan pangan. Melalui pertanian sawah, VOC mengarahkan masyarakat Sunda agar hidup menetap dalam pola perkampungan.</p>
<p class="MsoNormal">Berdasarkan dokumen VOC, sawah pertama di Priangan dibuka di Conggeang, Kabupaten Sumedang. Sawah itu dikerjakan orang-orang dari Banyumas. Mereka membawa peralatan lengkap dari kampung, termasuk kerbau. Adapun di Indramayu, yang menjadi lumbung padi, sawah pertama baru dibuka awal abad ke-19.</p>
<p class="MsoNormal">Perluasan sawah di Priangan mulai dilakukan tahun 1750 di kawasan Sumedang dan Tasikmalaya. Setengah abad kemudian, sawah mulai dibuka di Bandung dan Bogor.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber: <a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/04/16/01040060/di.mana.sawah.pertama.di.tatar.sunda">Kompas</a><span> </span><span> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/galeripers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/galeripers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/galeripers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/galeripers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/galeripers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/galeripers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/galeripers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/galeripers.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/galeripers.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/galeripers.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=galeripers.wordpress.com&blog=1444024&post=16&subd=galeripers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://galeripers.wordpress.com/2009/04/16/di-mana-sawah-pertama-di-tatar-sunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa30f33b201e2c6b12ff0688b119ba9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Suara Jogja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benteng Baluwerti, Keraton Kasultanan Yogyakarta</title>
		<link>http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/</link>
		<comments>http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 11:37:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Suara Jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/</guid>
		<description><![CDATA[Ing Mataram, bentengira inggilngubengi Kedhaton
plengkung lima, mung papat mengane
jagang jero, toyanira wening
tur pinacak suji, gayam turut lurung
Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan. 
Benteng Baluwerti dibangun atas prakarsa Pangeran Adipati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=galeripers.wordpress.com&blog=1444024&post=8&subd=galeripers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p><span style="font-size:x-small;"><em>Ing Mataram, bentengira inggil</em></span><span style="font-size:x-small;"><em>ngubengi Kedhaton</em></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><em>plengkung lima, mung papat mengane</em></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><em>jagang jero, toyanira wening</em></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><em>tur pinacak suji, gayam turut lurung</em></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size:x-small;">Keraton Kasultanan Yogyakarta dikelilingi oleh sebuah benteng yang didirikan sebagai sarana pertahanan serta untuk mengantisipasi serangan musuh dari luar wilayah Keraton. Benteng ini dinamai Benteng Baluwerti, yang berarti jatuhnya peluru laksana hujan. <span id="more-8"></span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Benteng Baluwerti dibangun atas prakarsa Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I, sebagai reaksi atas berdirinya benteng Kompeni di sebelah utara Keraton. Benteng Kompeni yang dibangun antara tahun 1765 hingga 1787 itu, kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg. Pembangunan Benteng Baluwerti sendiri ditandai dengan ornamen simbolik berupa suryasengkala yang berbunyi Paningaling Kawicakranan Salingga Bathara yang bermakna tahun 1785 Masehi. Untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan Daendels, Pada bulan November 1809, Pangeran Adipati Anom yang telah naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono II, semakin menyempurnakan bangunan ini.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Benteng Baluwerti berbentuk empat persegi mengelilingi kompleks Keraton seluas lebih kurang 1 kilometer persegi. Tembok benteng setinggi 3,5 meter dan lebar antara 3-4 meter yang membentuk anjungan. Tebalnya tembok benteng memungkinkan orang atau kereta kuda melintas diatasnya. Sisa anjungan pada tembok Benteng Baluwerti masih bisa disaksikan pada sisi selatan sebelah timur.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Benteng Baluwerti memiliki 5 buah pintu gerbang yang disebut plengkung. Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan berada di sisi utara sebelah timur, sekaligus menjadi pintu gerbang istana putra mahkota atau Kadipaten. Plengkung ini bentuknya masih utuh.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Plengkung Jagasura atau Plengkung Ngasem berada di sisi utara sebelah barat. Plengkung ini pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII telah mengalami perubahan bentuk menjadi gerbang bentar.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Di sebelah barat dahulu berdiri Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari. Saat ini, Plengkung Jagabaya ini juga sudah berubah bentuk menjadi gapura.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Di sisi sebelah timur, dahulu berdiri Plengkung Madyasura yang disebut pula Plengkung Tambakbaya atau Plengkung Gondomanan, yang sudah rata dengan tanah. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Plengkung Buntet, karena pernah ditutup menjelang serangan balatentara Inggris pada tahun 1812.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gadhing yang terdapat di sisi selatan masih berdiri utuh. Fungsi khusus gerbang ini adalah sebagai jalan untuk menghantar Sultan yang wafat menuju makam para raja di Imogiri. Pada sisi kiri dan kanan pintu terdapat ragam hias kepala raksasa yang disebut Kala atau Kemamang sebagai simbol pelepasan mangkatnya sang raja.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Pada setiap sudut Benteng Baluwerti terdapat bangunan bastion yang berfungsi sebagai tempat mengintai musuh. Di setiap bastion terdapat lubang pengintaian dan relung-relung yang berfungsi untuk menempatkan meriam atau senjata lainnya.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Sebelum terjadinya gempa bumi pada bulan Mei tahun 2006, 3 dari 4 bastion ini masih berdiri utuh, yaitu yang berada di sebelah tenggara, barat daya dan barat laut. Setelah terjadinya musibah gempa bumi, bastion-bastion ini sempat mengalami kerusakan yang cukup parah. Satu lagi bastion di sebelah timur laut telah lama runtuh dan saat ini hampir tidak lagi tersisa bekasnya. Sebuah prasasti yang ada di bekas bastion itu, menunjukkan sebab kerusakannya akibat serangan balatentara Inggris pada tahun 1812. Peristiwa yang terjadi pada masa Sultan Hamengku Buwono II tersebut dikenal sebagai Geger Sepoy atau Geger Spei.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Hingga sekitar abad ke-18, Benteng Baluwerti dikelilingi oleh selokan yang lebar dan dalam yang disebut jagang dengan jembatan gantung di depan setiap plengkungnya. Sepanjang tepian jagang ditanam deretan Pohon Gayam. Jika datang ancaman bahaya, jembatan-jembatan ini dapat ditarik ke atas hingga menutup jalan masuk menuju bagian dalam benteng. Pada jamannya, plengkung-plengkung ditutup pada jam 8 malam dan dibuka kembali pada jam 5 pagi diiringi genderang dan terompet para prajurit di halaman Kemagangan.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Kawasan di dalam lingkungan benteng, biasa disebut Jeron Beteng, merupakan situs pusaka budaya utama di Kota Yogyakarta. Selain Keraton sebagai situs terpenting, di kawasan ini juga berdiri sisa bangunan Pesanggrahan Tamansari, sebuah bangunan indah dengan konsep istana diatas air. Disini juga terdapat pola tata ruang yang khas, bangunan-bangunan bersejarah, serta pola tata nama yang masih lestari sejak pertama kali adanya dua setengah abad yang lalu. Meski tidak semuanya utuh sebagaimana adanya semula, kawasan Jeron Benteng menjadi ciri paling spesifik keberadaan Kota Yogyakarta, sebagai salah satu bekas kota kerajaan yang paling utuh dan lestari di Indonesia. Inilah monumen terpenting usia dua setengah abad Kota Yogyakarta, sejak didirikan oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1756 Masehi.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/galeripers.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/galeripers.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/galeripers.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/galeripers.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/galeripers.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/galeripers.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/galeripers.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/galeripers.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/galeripers.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/galeripers.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/galeripers.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/galeripers.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=galeripers.wordpress.com&blog=1444024&post=8&subd=galeripers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/benteng-baluwerti-keraton-kasultanan-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa30f33b201e2c6b12ff0688b119ba9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Suara Jogja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stadklok, Jam Kota di Jogja</title>
		<link>http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/stadklok-jam-kota-di-jogja/</link>
		<comments>http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/stadklok-jam-kota-di-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 11:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Suara Jogja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/stadklok-jam-kota-di-jogja/</guid>
		<description><![CDATA[Jam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda membuat beberapa buah jam di pusat kota Yogyakarta.  
Salah satunya ada di depan Geraja Protestan, Jl Margomulyo atau tepat di sebelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=galeripers.wordpress.com&blog=1444024&post=5&subd=galeripers&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font size="2">Jam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda membuat beberapa buah jam di pusat kota Yogyakarta.</font><font size="2">  <span id="more-5"></span></font></p>
<p><font size="2">Salah satunya ada di depan Geraja Protestan, Jl Margomulyo atau tepat di sebelah Utara Gedung Agung. Jam tersebut dikenal masyarakat Yogyakarta sebagai ‘Jam kota’ atau Stadsklok. Didirikan pada tahun 1916 dan dipersembahkan masyarakat Belanda kepada Pemerintahnya sebagai monumen peringatan genap satu abad kembalinya pemerintahan Belanda dari penjajahan Inggris. Jadi jam ini merupakan peninggalan kolonial. Akan tetapi tanda yang menunjukkan kalimat-kalimat tersebut yang terbuat dari kuningan telah dihilangkan.</font><font size="2">Jam tersebut bermerek Morgeus. Pada awalnya digerakkan secara konvensional dengan per. Namun dengan masuknya aliran listrik di kota Yogyakarta pada tahun 1928, penggeraknya diubah menjadi dengan aliran listrik. Dengan perubahan ini, sayangnya ketika listrik mati maka jam tersebut juga ikut mati.</font><font size="2"> </font><font size="2">Di samping jam kota, pada masa itu dipasang juga jam yang bentuk dan mereknya sama di atas pintu masuk stasiun kereta api Tugu, di atas pintu masuk Kantor Pos Besar, menempel di dinding Toko ‘Rumus’ Jl P Mangkubumi (sekarang masih ada) dan jam tersebut berbentuk bolak-balik, juga dipasang di Toko ‘Fonteyn’ Malioboro di sebelah Utara Jl Sosrowijayan dan sekarang telah berganti nama.</p>
<p>Pada tanggal 17 Agustus 1936 didirikan sebuah jam lagi, bertempat di Barat Laut Masjid Suronatan atau sebelah Barat Keben Kraton Yogyakarta. Pada jam tersebut tertulis sebuah prasasti berbunyi, <em>Pengetan Kagungan Dalem Jam Nama Seikrun, pisungsunipun Eyang Gupermen sarta bangsa Tionghwa ingkang manggen ing Nagari Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat, amengeti Wiyosan Dalem tumbuk kalih windhu, marengi ing dinten Senen Wage tanggal kaping 29 wulan Jumadilawal taun Alip 1867 utawi 17 Agustus 1936.</em></p>
<p>Meski tampak sepele, namun benda-benda tersebut tidak sedikit jasanya bagi masyarakat Yogyakarta. Dengan demikian agar yang berwenang tetap menjaga dan melestarikan keberadaannya. Karena mungkin hanya Yogyakarta yang memiliki bangunan benda tersebut dan dapat dijadikan sebagai monumen kota.</p>
<p><font size="2" color="#00007f">Sumber : <a target="_blank" href="http://www.kr.co.id">Kedaulatan Rakyat</a>, 13 Maret 2004</font></p>
<p></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/galeripers.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/galeripers.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/galeripers.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/galeripers.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/galeripers.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/galeripers.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/galeripers.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/galeripers.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/galeripers.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/galeripers.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/galeripers.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/galeripers.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=galeripers.wordpress.com&blog=1444024&post=5&subd=galeripers&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://galeripers.wordpress.com/2007/08/21/stadklok-jam-kota-di-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fa30f33b201e2c6b12ff0688b119ba9d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Komunitas Suara Jogja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>